Langsung ke konten utama

Antara Hidup dan Mati - Cerpen Remaja


BUNGA layu itu tersenyum putus asa, menanti masa depannya akan seperti apa.

Jika aku bunga, maka aku adalah bunga yang hidup di atas tanah tandus. Beberapa orang yang melihatku langsung, ekspresinya akan berubah menjadi kasihan. Ada juga yang berterus terang tentang kekhawatirannya padaku. Pada saat itu aku hanya tersenyum dan mengatakan akan menjalani hidup yang baik.

Mendapat hal itu semua dari orang yang tahu kisah hidupku, adalah sebuah kesenangan tersendiri. Tetapi di lain kesempatan, aku merasa orang-orang tidak perlu mengasihaniku begitu. Ada kalanya aku hanya ingin diberi kata semangat.

“Randy! Lu minjem uang ya ke Marlo?” teriakan dari orang yang kukenal itu menghentikan langkahku membuka pintu gerbang rumah.

Aku melihat orang yang bertanya kepadaku itu. Gendis. Gadis itu selalu ikut campur dengan segala hal yang aku lakukan. Aku tersenyum dan mengonfirmasi jawabannya. “Iya. Kenapa?”

Gendis tampak kesal dengan jawabanku. Lalu ia menghampiriku dengan seragam SMA-nya. Dia tampak berkacak pinggang.

“Bodoh! Lu tahu gak sih? Lu udah banyak minjem uang. Utang lu juga yang enam juta belum kebayar ke Natha. Masa sekarang minjem lagi? Lagian apa sih untungnya main judi? Menang kaga, dosa iya. Rugi lu.”

Aku tertawa mendengar perkataan Gendis. Menjadi seorang yatim piatu adalah bagian terberat untukku. Aku lahir tanpa Ayah, dan Ibuku sudah meninggal tiga tahun lalu. Aku tidak punya keluarga selain Ibuku sendiri. Sehingga ketika mendapat takdir ini aku sangat marah. Ibu yang sangat aku sayangi telah meninggalkanku untuk selamanya. 

Hidupku yang dulunya teratur dan enggan melakukan hal-hal nakal, kini tidak lagi sama. Aku hanya mengatakan akan menjalani hidup yang baik kepada orang-orang yang mengasihaniku, tetapi nyatanya tidak demikian.

“Gue belum pernah kalah Gendis. Selama main, gue menang terus. Kaga tahu kan lu?” Kami sangat dekat, karena kami berada di bangku sekolah yang sama. Selain itu, Gendis teman kecilku. Dia selalu ada di segala macam kondisiku. Hal itu juga yang membuat aku menyayangi gadis ini.

“Ya karena sekarang lu baru main aja, makanya dikasih menang. Lihat aja nanti, pasti lu bakal kalah terus. Kalau lu stress gara-gara ini, mohon maaf, gue gak bakal hibur lu. Bye.”

Aku menggelengkan kepala melihat gadis itu pergi begitu saja. 

Sejujurnya aku mengerti apa yang dikatakan Gendis itu bentuk kepeduliannya padaku. Tetapi aku tidak bisa berhenti begitu saja. Aku masih tertarik untuk melakukan judi online. Semua itu pun bermula karena temanku merekomendasikan sebuah aplikasi. Di mana aku bisa mendapatkan uang banyak, hanya dengan bayar deposit rendah. Namun sekali menang, aku ingin mendapatkan yang lebih banyak. Untuk mendapatkan itu aku harus membayar admin lebih besar dari sebelumnya. Karena itu aku meminjam kepada Marlo untuk kekurangannya. 

Bila dipikir kembali rasanya ini tidak benar, karena untuk makan pun aku masih harus bekerja. Namun, rasa hausku mendapatkan uang dari judi online, membuat pikiran rasionalku tertutup. Hingga beberapa bulan kemudian, aku merasakan pahitnya terlilit utang.

Beasiswa yang membuatku bisa bersekolah pun terancam dicabut, bila semester ini nilaiku menurun. Restoran tempatku bekerja pun sudah memecatku karena kualitas kerja yang memburuk. Hidupku rasanya di ambang kehancuran. Aku tidak memiliki siapa-siapa untuk dibagi kisah. Aku hanya bisa menahan segala kekecewaanku seorang diri.

Di rumah yang kosong nan sepi ini, aku mengambil sebotol obat nyamuk. Aku memerhatikan botol yang ada di genggamanku itu setibanya di depan jendela. Kemudian aku melihat pemandangan yang berada di luar sana. Apa aku harus mati saja, agar bisa bertemu Ibu lebih cepat? Tetapi, bayangan Ibu kala tersenyum menggangguku. 

Aku mengingat petuahnya yang kini tidak sejalan dengan hidupku. Ibu selalu mengatakan agar aku menjadi pria yang baik. Pria yang bisa menyelesaikan masalah, bukannya lari. Selain itu, Ibu pernah berpesan agar aku bisa menjadi manfaat untuk orang yang ada di sekitarku.

Rasanya semua kini harapan Ibu tidak terkabul. Sepeninggalnya Ibu, aku menjadi laki-laki yang rusak. Saat ini pun aku ingin segera menemui Ibu. Begitu tidak bertanggung jawabnya aku.

“Randy! Buka pintunya. Kalau gak lu buka, gue dobrak juga nih pintu!” 

Setiap hari aku sering mendengar suara seperti itu. Kalau bukan Natha yang datang, pasti Marlo dan gengnya yang menemuiku untuk menagih utang.

Aku menaruh botol obat nyamuk yang sedari tadi aku pegang ke meja. Lalu berjalan dan membukakan pintu.

Seringaian dari lelaki yang usianya satu tingkat di atasku itu pun menjadi pandangan pertama yang kulihat. Lalu di belakangnya ada dua temannya dengan tampang yang sama. Tidak ada rasa takut dalam diriku. Aku hanya memasang wajah datar, lalu mempersilakan mereka masuk.

“Sudah dua bulan dari terakhir lu ngutang, tapi sampai saat ini gue belum dapat sepeser pun uang dari lu. Lu ngutang, tapi kayak ogah bayar. Mau kapan lu bayar utang yang 15 juta itu?” 

“Nanti gue bayar kalau udah dapat kerjaan. Sorry, kemarin gue baru dipecat.”

Saat ini kami sedang duduk di kursi ruang tamu. Selain rumah, aku tidak memiliki apapun lagi. Dan aku pun tidak berniat menjual rumah ini, karena banyak kenangan yang aku dan Ibu habiskan di sini.

“Dengan apa lu bayar uang 15 juta gue? kerjaan lu yang tidak seberapa itu, gak akan bisa menggantikan utang lu ke gue.” Seorang lelaki itu sangat menjunjung harga diri. Sehingga mendengar Marlo mengatakan hal itu amarahku memuncak.

“Kenapa lu, gak terima sama ucapan gue?” Marlo tampak tertawa, lalu ia memerintahkan kedua temannya itu menggeledah rumahku.

“Cari sertifikat rumahnya sampai dapat. Kalau gak dapat, organ nih bocah gue jual.” Aku tidak menerima sikap Marlo yang demikian. Hingga aku pun mengejar kedua teman Marlo untuk menghentikan pencarian sertifikat rumahku.

Langkahku dicegat begitu saja. Semakin aku berontak, mereka akan memukuliku. Namun aku tidak menyerah. Aku menendang tungkai kaki mereka. Tubuh mereka sempat terhuyung, tetapi kemudian mereka berbalik dan memukuliku. Tonjokan demi tonjokan yang mereka berikan kepadaku, membuat tubuhku lemah. Bibirku juga sudah mulai berdarah. Dadaku sangat sesak, tetapi aku tidak ingin menyerah begitu saja. 

Aku memukul wajah mereka sekuat tenaga, tetapi kemudian tanganku ditangkap oleh salah satu dari mereka. Kedua tanganku dipegang ke belakang oleh Daniel, dan satu temannya Nando memukuliku sampai aku kehilangan keseimbangan.

Di saat bersamaan aku mendengar suara Gendis memanggilku. Gadis itu selalu menjadi saksi di situasiku yang sangat genting. Kemarin di hadapan Natha, sekarang Marlo. Aku tersenyum kecut mencibir takdir.

Gadis itu mendobrak pintu rumahku dengan sangat kencang. Di mana hal itu menjadi pusat perhatian Marlo dan kedua temannya.

Marlo tak acuh dengan kehadiran Gendis. Ia malah memerintahkan Daniel serta Nando untuk melanjutkan penggeledahan rumahku. 

“Siap Bos,” ucap Daniel dan Nando kompak.

Kedua teman Marlo itu berpencar ke kamar dan ruangan belajarku. Aku yang sudah tergeletak tidak berdaya di lantai pun berteriak. Berharap mereka menghentikan penggeledahan. Gendis yang masih berdiri di depan pintu pun memanggilku pilu.

Aku menangis. Aku tidak ingin rumah ini dijual. Aku tidak ingin memori yang kubangun dengan Ibu di sini hilang begitu saja. Aku ingin merawat rumah ini sampai aku tua.

Sesampainya di dekatku, Gendis bertanya mengapa aku bisa babak belur? Hawa tidak terima dari nada bertanya Gendis itu, membuat aku berusaha untuk menghalangi Daniel dan Nando. Meski tertatih aku pun berjalan menemui Daniel, yang mana sertifikat rumahku ada di dalam kamar.

Gendis membantuku menuju kamar. Sedangkan Marlo ia hanya tertawa sinis sambil merokok.

Sesampainya di sana, Daniel tersenyum dan menampilkan sertifikat rumahnya itu kepadaku. Aku mencoba menerobos untuk mengambil sertifikat itu, namun Daniel berhasil berpindah posisi. Sehingga aku pun jatuh tersungkur. Lelaki itu tertawa sambil berlalu meninggalkanku.

Sebulan kemudian, aku memulai hidup yang baru. Marlo berhasil menjual rumah yang sangat aku jaga. Ia juga mengatakan mendapat untung dari penjualan rumahku. Di mana itu, ia mengatakan sebagai bunga, sekaligus uang ganti rugi karena aku tidak bayar sesuai janji yang telah disepakati.

Perihal utangku ke Natha, aku sudah membayarnya setengah. Di mana itu pun dibantu oleh Gendis. Gendis anak orang berada, sehingga ketika rumahku telah dijual, orang tuanya mengajak aku untuk tinggal bersama. Aku pun menyetujui. Namun aku tidak ingin tinggal begitu saja, jadi aku meminta agar bisa bekerja di rumah ini. Aku pun bekerja sebagai tukang kebun, yang mana kebunnya ada di belakang rumahnya Gendis. Selain itu aku pun mempunyai pekerjaan sampingan di sebuah restoran. Aku bekerja di restoran dari pukul enam sore sampai dua belas malam. 

Sehingga aku tidak memiliki waktu untuk berleha-leha seperti remaja lainnya. 

“Gimana perasaan lu sekarang Ran? Gak mau sampai bunuh diri lagi kan?” aku tertawa mendengar Gendis berbicara demikian. Sebelumnya aku mengatakan akan bunuh diri di hari Marlo datang ke rumah.

“Hidupku terlalu berharga untuk bunuh diri Gendis,” jawabku sambil tersenyum. 

Saat ini weekend, sehingga aku berada di kebun memanen tomat yang sudah merah. Waktu kerjaku di kebun hanya di hari libur sekolah saja.

Gendis tersenyum sambil memanen tomat bersamaku. “Dulu kamu bilang, hidupmu itu kayak antara hidup sama mati. Ngambang gitu, jadi kalau milih salah satunya kamu bakal tetap menderita. Tapi sekarang aku bersyukur karena kamu memilih untuk tetap hidup dengan versimu yang lebih baik.”

Aku tidak bisa berhenti mengucap syukur kepada Tuhan, karena telah memberiku teman yang baik seperti Gendis. Karena dia, aku memiliki motivasi untuk mengubah hidupku menjadi lebih baik. Aku pun berjanji pada diriku sendiri untuk mewujudkan harapan Ibu.

“Hidup manusia itu dinamis. Ada sedih dan bahagia. Aku baru menyadari hal itu. Di mana hidup gak selalu tentang sedih aja. Pasti setelah sedih ada bahagianya juga. Sebagai manusia, gak seharusnya aku merasa jadi orang tersedih. Kesedihan mendalam membuatku kehilangan akal.” 

Gendis tampak menyorakiku bangga. “Ternyata seorang Randy bisa bicara bijak juga ya.” Aku tersenyum seraya mengacak rambutnya gemas. “Pengalaman yang membuatku sekarang begini.” Jeda sebentar, “Eh tapi tunggu, tadi kamu bilang aku-kamu. Aku gak salah dengar kan?”

Beberapa minggu terakhir aku mengubah panggilanku dengan Gendis. Entah mengapa, tetapi itu terjadi secara spontan. Gendis tampak tertawa.

“Spontan. Lagian senin kemarin ada anak baru di kelas gue, dia ngomongnya aku-kamu. Jadi aku yang jadi temannya ikut-ikutan deh manggil gitu. Dan itu membuat gue secara gak sadar manggil lu kamu gitu.”

“Begitu?” tanyaku mencandainya.

“Iya. Sejak kapan gue bohong sama lu?” aku tertawa. Setelah itu, kami pun meninggalkan kebun dengan perasaan yang amat senang. 

Hidup itu selalu memberi pelajaran kepada manusia. Sekalipun dalam penderitaan, ia tetap hadir memberi kebahagiaan sederhana. Masa lalu adalah pelajaran, dan masa depan adalah harapan. Setiap manusia berhak memiliki masa depan yang cerah, sekalipun masa lalunya suram. Pandangan manusia tidak perlu dihiraukan bila menjatuhkan. Fokus pada tujuan merupakan hal tepat untuk melukis masa depan yang indah. Terima kasih masa lalu, aku belajar hal indah darimu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siska Notes - Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye

Dokumentasi pribadi - Siska Amelia.      1 Januari 2026 aku memulainya dengan merampungkan novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Buku ini sudah aku baca mulai pertengahan bulan, tahun lalu. Namun karena sering menunda, akhirnya aku bisa menyelesaikannya awal tahun ini.     For first time membaca prolognya, aku disuguhkan karakter Borno yang ingin tahu tentang apa pun. Saat itu ia masih enam tahun, namun pertanyaan yang ia ajukan kepada orang terdekatnya membuat pusing. Mereka enggan menjawab pertanyaan Borno, karena itu terlalu absurd. Namun tidak dengan Pak Tua, tokoh ini mampu menjawab pertanyaan Borno. Hal itu membuat Borno merasa bahagia.     Hal menarik lain dalam novel ini adalah tentang pekerjaan Borno. Ia hanya lulusan SMA yang sering bergonta-ganti pekerjaan. Tetangga di Sungai Kapuas sering menjahilinya. Hingga akhirnya ia pun belajar mengemudi sepit dan menjadikan pekerjaannya. Di novel ini ada satu kutipan menarik, yaitu: "Kau tahu, B...

Puisi untuk Palestina “Hukum Dunia”

Hukum Dunia? Dunia ini sangat aneh Di sana ada huru hara tetapi manusia yang berkuasa hanya diam saja Darah berceceran Anak-anak dibunuh tanpa rasa kasihan Rumah sakit dibom tak berperikemanusiaan Orang yang tengah beribadah pun mereka ganggu Tercela Begitu hina bangsa itu Organisasi perdamaian seolah buta serta tuli Tangisan saudaraku kau anggap angin lalu Mereka hanyalah tamu yang mengusir pemilik rumah lantas saat pemilik rumah membela diri, mereka menamai saudaraku teroris Pandai sekali mereka memainkan peran layaknya korban Munafik Kau mungkin takut memberi sanksi pada mereka lantaran zionis didukung penguasa dunia Dunia yang nilainya tidak lebih dari sebelah sayap nyamuk Hina Tetap i ke tahuilah, Saudaraku tidak akan pernah menyerah Semangat jihad mereka luar biasa Saudaraku bukan pengecut Biar hukummu tidak berpihak pada saudaraku tetapi Tuhan akan membersamai saudaraku Zionis, penyokongnya, dan kau bersiaplah jadi santapan api neraka