Langsung ke konten utama

Puisi untuk Palestina “Hukum Dunia”


Hukum Dunia?

Dunia ini sangat aneh
Di sana ada huru hara
tetapi manusia yang berkuasa hanya diam saja

Darah berceceran
Anak-anak dibunuh tanpa rasa kasihan
Rumah sakit dibom tak berperikemanusiaan
Orang yang tengah beribadah pun mereka ganggu

Tercela
Begitu hina bangsa itu
Organisasi perdamaian seolah buta serta tuli
Tangisan saudaraku kau anggap angin lalu

Mereka hanyalah tamu yang mengusir pemilik rumah
lantas saat pemilik rumah membela diri,
mereka menamai saudaraku teroris
Pandai sekali mereka memainkan peran layaknya korban

Munafik
Kau mungkin takut memberi sanksi pada mereka
lantaran zionis didukung penguasa dunia
Dunia yang nilainya tidak lebih dari sebelah sayap nyamuk
Hina

Tetapi ketahuilah,
Saudaraku tidak akan pernah menyerah
Semangat jihad mereka luar biasa
Saudaraku bukan pengecut

Biar hukummu tidak berpihak pada saudaraku
tetapi Tuhan akan membersamai saudaraku
Zionis, penyokongnya, dan kau
bersiaplah jadi santapan api neraka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siska Notes - Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye

Dokumentasi pribadi - Siska Amelia.      1 Januari 2026 aku memulainya dengan merampungkan novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Buku ini sudah aku baca mulai pertengahan bulan, tahun lalu. Namun karena sering menunda, akhirnya aku bisa menyelesaikannya awal tahun ini.     For first time membaca prolognya, aku disuguhkan karakter Borno yang ingin tahu tentang apa pun. Saat itu ia masih enam tahun, namun pertanyaan yang ia ajukan kepada orang terdekatnya membuat pusing. Mereka enggan menjawab pertanyaan Borno, karena itu terlalu absurd. Namun tidak dengan Pak Tua, tokoh ini mampu menjawab pertanyaan Borno. Hal itu membuat Borno merasa bahagia.     Hal menarik lain dalam novel ini adalah tentang pekerjaan Borno. Ia hanya lulusan SMA yang sering bergonta-ganti pekerjaan. Tetangga di Sungai Kapuas sering menjahilinya. Hingga akhirnya ia pun belajar mengemudi sepit dan menjadikan pekerjaannya. Di novel ini ada satu kutipan menarik, yaitu: "Kau tahu, B...

Antara Hidup dan Mati - Cerpen Remaja

BUNGA layu itu tersenyum putus asa, menanti masa depannya akan seperti apa. Jika aku bunga, maka aku adalah bunga yang hidup di atas tanah tandus. Beberapa orang yang melihatku langsung, ekspresinya akan berubah menjadi kasihan. Ada juga yang berterus terang tentang kekhawatirannya padaku. Pada saat itu aku hanya tersenyum dan mengatakan akan menjalani hidup yang baik. Mendapat hal itu semua dari orang yang tahu kisah hidupku, adalah sebuah kesenangan tersendiri. Tetapi di lain kesempatan, aku merasa orang-orang tidak perlu mengasihaniku begitu. Ada kalanya aku hanya ingin diberi kata semangat. “Randy! Lu minjem uang ya ke Marlo?” teriakan dari orang yang kukenal itu menghentikan langkahku membuka pintu gerbang rumah. Aku melihat orang yang bertanya kepadaku itu. Gendis. Gadis itu selalu ikut campur dengan segala hal yang aku lakukan. Aku tersenyum dan mengonfirmasi jawabannya. “Iya. Kenapa?” Gendis tampak kesal dengan jawabanku. Lalu ia menghampiriku dengan seragam SMA-nya. Dia tampak...