![]() |
| Dokumentasi pribadi - Siska Amelia. |
1 Januari 2026 aku memulainya dengan merampungkan novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Buku ini sudah aku baca mulai pertengahan bulan, tahun lalu. Namun karena sering menunda, akhirnya aku bisa menyelesaikannya awal tahun ini.
For first time membaca prolognya, aku disuguhkan karakter Borno yang ingin tahu tentang apa pun. Saat itu ia masih enam tahun, namun pertanyaan yang ia ajukan kepada orang terdekatnya membuat pusing. Mereka enggan menjawab pertanyaan Borno, karena itu terlalu absurd. Namun tidak dengan Pak Tua, tokoh ini mampu menjawab pertanyaan Borno. Hal itu membuat Borno merasa bahagia.
Hal menarik lain dalam novel ini adalah tentang pekerjaan Borno. Ia hanya lulusan SMA yang sering bergonta-ganti pekerjaan. Tetangga di Sungai Kapuas sering menjahilinya. Hingga akhirnya ia pun belajar mengemudi sepit dan menjadikan pekerjaannya. Di novel ini ada satu kutipan menarik, yaitu:
"Kau tahu, Borno, tempat kerja kau sebelumnya, meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan."
Novel ini sangat memotivasi sekali untukku. Di tengah mengemudi sepit, Borno juga bekerja di bengkel bapaknya Andi. Borno sangat tertarik dengan mesin, buku tentang mesin yang ia punya sudah dikhatamkannya. Sehingga tidak heran setiap ada kasus permasalahan mesin di bengkel ia bisa mudah mengatasinya.
Lantaran kecakapannya, bapaknya Andi mengajak kerja sama Borno untuk memperluas bengkelnya di jalan besar. Borno setuju dan menjual sepit untuk kerja sama bisnisnya. Mereka pun akhirnya pindah ke bengkel yang besar dengan lokasi yang lebih strategis. Namun semua itu tidak berjalan mudah. Ada kendala yang mengiringi. Borno tidak larut dalam kesedihan. Dalam situasi seperti ini ia harus melakukan sesuatu. Meski kecil tapi bila ada pergerakkan semuanya bisa terselesaikan.
Andi merupakan salah satu tokoh yang dekat dengan Borno sekaligus partner di bengkel. Karakter Andi ini sangat menyenangkan. Sikap usil dan tengilnya menjadi daya tarik novel ini. Selain itu hubungan Borno dan Mei menjadi plot utama novel ini.
Si Sendu Menawan, begitu tokoh lain memanggil Mei. Kisah mereka menjadi highlight untukku, terutama bagian konflik. Menerima takdir bahwa orang terdekat kita pernah melakukan kesalahan kepada sang pujaan hati itu tidak mudah. Selalu ada pertentangan di hati. Namun sikap Borno luar biasa. Ia tetap menerima dan mencintai Mei seperti sebelum tahu rahasia yang Mei tutupi.
"Aku berjanji akan selalu mencintai kau, Mei. Bahkan walau aku telah membaca surat dalam angpau merah itu ribuan kali, tahu masa lalu yang menyakitkan, itu tidak akan mengubah apa pun. Bahkan walau satpam galak rumah ini mengusirku, menghinaku, itu juga tidak akan mengubah perasaanku. Aku akan selalu mencintai kau, Mei. Astaga, Mei, jika kau tidak percaya janjiku bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas, maka siapa lagi yang bisa kau percaya?"
Begitu kata yang Borno ucapkan kepada Mei. Sebuah kisah cinta yang sangat indah. Tentang memaafkan dan menerima takdir. Jika kamu belum membaca novel ini, kusarankan untuk membacanya segera.
Tidak ada kata rugi membaca novel ini. Selalu ada pesan dan kesan yang membuat hidup kita menjadi lebih berwarna.

Komentar
Posting Komentar